Damba kian menghindar menjauh,,
hampir terjebak waktu separuh,,
Laksana daun disertai hujan jatuh,,
Sarat Lelah penuh peluh. . .
Pijar menjadi tak bermakna,
Suram kelam kian semakna,
sejengkal rasa penuh jeda,,
Keadaan makin berbeda,
Aku wanita biasa,
Bukan dengan kesempurnaan ku pahami makna,
Aku wanita biasa
Yang dengan mudah menitikan air mata,
Aku wanita biasa,
Tanpa membebani rasa pada siapa,,
Aku wanita biasa,
Yang sekiranya mendamba tanpa kata,
Aku wanita biasa,
Yang tak sepenuhnya bijaksana,,
Kini tak perlu lagi berharap,
Untuk dia yang hilang melenyap.
Untuk dia yang jelas berkata tak siap,,
Kamu, kalian, mereka,,
Bukti adanya perubahan..
Kamu kalian mereka,
Bukti Tuhan beriku teguran..
Kamu, kalian mereka,
Membuka mata bahwa tak ada yang setia,
Tak ada yang benar-benar mampu menjaga,..
Jangan lagi mengayuh peluh,,
Cukuplah petir menemani mega dengan gemuruh,
Terdengar bisikan ricuh riuh. . .
Tak ingin lagi mengeluh,
Biarkan adanya terliat lusuh,
Di lembaran bukti kecil tanpa menganggap kamu, kalian, dan mereka musuh. . .
Karena sejatinya,
Aku wanita biasa...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar